Wednesday, September 4, 2013

artikel konseptual

ARTIKEL KONSEPTUAL

MEMAHAMI REMAJA PUTRI DALAM BERPACARAN
DI KOTA SEMARANG

Disusun untuk memenuhi tugas Matrikulasi
Dosen pengampu Prof. DR. H. Maman Rachman, M.Sc.

Description: C:\Documents and Settings\Campusnet\Desktop\Logo_Unnes.png


Oleh               : Hari Arbi Nugroho
NIM               : 0301513024
Rombel          : Reguler IPS Semester I


PROGRAM STUDI ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2013




MEMAHAMI REMAJA PUTRI DALAM BERPACARAN
DI KOTA SEMARANG

Hari Arbi Nugroho (0301513023)
Mahasiswa PPS Pendidikan IPS UNNES

ABSTRAK
Memiliki anak menginjak usia remaja menimbulkan banyak ketakutan bagi orang tua. Terutama dari pergaulan remaja yang belum bisa membedakan yang baik dan buruk. Salah satunya sudah munculnya rasa nyaman remaja putri dengan lawan jenis membuat mereka mencari pasangan dan berpacaran. Lebih jauh dari itu, kita sering mendengar pergaulan bebas sebelum menikah. Diperlukan perhatian dan pengarahan yang tepat untuk memahami remaja putri agar tidak salah dalam berpacaran.
Kata Kunci : Remaja putri, Berpacaran.

PENDAHULUAN
Kota Semarang adalah salah satu kota besar di Indonesia, ibu kota Propinsi Jawa Tengah, pusat segala aktivitas ekonomi, sosial dan budaya seperti halnya kota-kota lain yang sedang berkembang di seluruh dunia. Perkembangan pesat, seperti berdirinya kantor-kantor, pusat perbelanjaan, sarana perhubungan, pabrik, sarana hiburan dan sebagainya tak pelak mendorong para urban untuk mengadu nasib di Kota Semarang. Jumlah penduduk Kota Semarang mencapai   1,45 juta jiwa pada tahun 2007. Angka ini terus meningkat dan pada tahun 2009 telah mencapai 1,50 juta jiwa. Tingkat pertumbuhan penduduk pada tiga tahun terakhir berfluktuatif. Dimana tercatat pada tahun 2007 sebesar 1,43% kemudian meningkat agak tajam menjadi 1,86% di tahun 2008 dan terakhir mengalami sedikit penurunan 0,15% di tahun 2009. Secara umum jumlah penduduk perempuan lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk laki-laki. Pada tahun 2009, untuk setiap  100 penduduk perempuan terdapat 98 penduduk laki-laki. (Badan pusat statistic kota Semarang)
Istilah adolescence atau remaja berasal dari kata latin adolescence (kata bendanya dolescenta yang berarti remaja) yang berarti tumbuh menjadi dewasa. Adolescence artinya berangsur-angsur menuju kematangan secara fisik, akal, kejiwaan dan sosial serta emosional. Hal ini mengisyaratkan kepada hakikat umum, yaitu bahwa pertumbuhan tidak berpindah dari satu fase ke fase lainya secara tiba-tiba, tetapi pertumbuhan itu berlangsung setahap demi setahap (Al-Mighwar, 2006).
Rasanya tidak sulit bagi kita untuk menjumpai banyak remaja putri di mal yang bergandengan tangan, berpelukan, bahkan berciuman dengan teman lawan jenisnya. Tidak harus di kota metropolis tapi di kota-kota kecilpun dapat detemukan. Lebih jauh dari itu, kita bahkan sudah beberapa kali mendengar kabar remaja putri yang sudah melakukan hubungan seksual dengan pacarnya. Fenomena demikian merupakan bagian dari pergumulan remaja putri.  Perkembangan remaja putri akan merasa bangga ketika ada pacar yang selalu ada buat dia. Sampai akhirnya akan melakukan apapun yang dia rasa bisa membahagiakan mereka dan pasangannya.
Sebagai orang tua pasti merasakan cemas bahwa dewasa ini remaja putri kita mengalami tekanan untuk dicintai dan mencintai dirinya. Akibatnya pada usia ini perlombaan mencari pacar merupakan target dan prioritas hidupnya. Apalagi rasa ini dibarengi oleh rasa anak yang tidak mendapatkan kasih saying dari orang tuanya. Kalau mereka kurang mendapatkan cinta di tengah keluarga, maka mereka akan mencarinya diluar keluarganya. Faktor apa saja yang menyebabkan remaja putri merasa sangat membutuhkan cinta atau pasangan lain jenis bisa kita temukan dan mengarahkan remaja putri agar mendapatkan kasih sayang secara tepat dari keluarga dan lingkungannya.

PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian dan pernyataan di atas, maka permasalahan dalam tulisan ini adalah bagaimana memahami dan mengarahkan remaja putri dalam berpacaran di kota semarang.

PEMBAHASAN

Masa remaja adalah masa transisi antara masa anak dan dewasa,  dimana terjadi pacu tumbuh (growth spurt), timbul ciri-ciri seks sekunder, tercapai fertilitas dan terjadi perubahan-perubahan psikologik serta kognitif (Soetjiningsih, 2004). WHO menetapkan batas usia remaja dalam 2 bagian yaitu remaja awal 10-12 tahun dan remaja akhir 15-20 tahun. Pedoman umum remaja di Indonesia menggunakan batasan usia 11-24 tahun dan belum menikah(Odi Solahudin 2000: 5).
Menurut Depkes RI (2002), ciri-ciri seksualitas primer pada remaja dibedakan atas jenis kelamin yaitu laki-laki dan perempuan. Remaja laki-laki ditandai dengan telah berfungsinya organ reproduksi yakni dengan adanya mimpi basah yang umumnya terjadi pada usia 10-15 tahun. Hal ini terjadi akibat organ testis telah mulai memproduksi sperma. Sperma yang telah dikeluarkan jika kantungnya telah penuh sementara pada remaja putri ditandai dengan adanya peristiwa menstruasi (menarche). Menstruasi pertama ini menandakan bahwa remaja putri sudah siap untuk hamil (Depkes RI, 2002).
Masa remaja dianggap sebagai periode badai dan tekanan, yaitu suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi, sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar. Emosi remaja yang sangat kuat, tidak terkendali dan tampak irasional pada umumnya dari tahun ke tahun terjadi perbaikan perilaku emosional. Menurut Gesell, remaja seringkali mudah ramah, mudah dirangsang dan emosinya cenderung meledak tidak berusaha mengendalikan perasaannya. Remaja tidak lagi mengungkapkan amarahnya dengan cara gerakan amarah yang meledak-ledak, melainkan dengan menggerutu, tidak mau berbicara atau dengan suara keras mengkritik orang-orang yang menyebabkan amarah (Nurdin.Fadlin, M, 2010).
Perubahan sosial yang terlihat salah satunya adalah tugas perkembangan masa remaja yang tersulit adalah berhubungan dengan penyesuaian sosial. Remaja harus menyesuaikan diri dengan lawan jenis dalam hubungan yang sebelumnya belum pernah ada dan harus menyesuaikan dengan orang dewasa diluar lingkungan keluarga dan sekolah. Untuk mencapai tujuan dari pola sosialisasi dewasa, remaja juga harus membuat banyak penyesuaian baru yaitu penyesuaian diri dengan pengaruh kelompok sebaya, perubahan dalam perilaku sosial, nilai-nilai baru dalam seleksi persahabatan, nilai-nilai baru dalam masyarakat.
Fenomena demikian merupakan bagian dari pergumulan remaja putri.  Perkembangan remaja putri akan merasa bangga ketika ada pacar yang selalu ada buat dia. Sampai akhirnya akan melakukan apapun yang dia rasa bisa membahagiakan mereka dan pasangannya. Apalagi rasa ini dibarengi oleh rasa anak yang tidak mendapatkan kasih saying dari orang tuanya. Kalau mereka kurang mendapatkan cinta di tengah keluarga, maka mereka akan mencarinya diluar keluarganya. Faktor apa saja yang menyebabkan remaja putri merasa sangat membutuhkan cinta atau pasangan lain jenis bisa kita lihat dari.
1.      Nilai hidup yang menekankan kecantikan jasmaniah semakin bertambah.
Dalam media televisi banyak sekali iklan yang mengagungkan nilai hidup pada kecantikan jasmaniah. Banyak wanita-wanita cantik yang memakai produk kecantikan tertentu dan dapat memberikan cara instan merawat tubuh dengan baik. Tak dapat disangkal budaya jaman ini telah membuat wanita sangat terobsesi dengan kecantikan jasmaniah dan berfikir kalau tampil menarik, maka meraka merasa berharga dan berbeda. Apabila ada seorang pria yang terpikat padanya, seakan-akan ada atau tidaknya pacar menjadi salah satu penentu keberhargaan dirinya. Apalagi bagi wanita yang mempunyai pasangan yang tampil tampan dan keren, akan membuat iri bagi remaja perempuan yang belum mempunyai pacar untuk mencari seadanya tanpa memedulikan baik atau buruknya. Bahkan dalam dunia maya jejaring sosial banyak remaja putri yang memasang foto profil dengan foto artis dan wanita cantik. Bahkan, mereka tidak segan-segan menampilkan potret dirinya dengan pakaian seminim mungkin demi menarik para pria di dunia maya.

2.      Kurangnya interaksi dengan orang tua.
Dalam perkembangan anak membutuhkan kasih sayang dan perhatian orang tua, termasuk anak perempuan. Apabila anak merasa dikasihi secara cukup oleh orang tua maka dirinya pun akan merasa kuat di dalam keluarganya. Sebaliknya jika anak banyak menerima kenyataan bahwa orang tuanya tidak memiliki waktu interaksi berkualitas dengan dirinya karena sibuk dengan pekerjaannya, anak tidak dapat kasih sayang secara cukup.
Mereka membutuhkan waktu berpergian bersama, dipeluk, diajak bicara, dibesarkan hatinya, dan bentuk-bentuk kasih sayang lainya. Karena sewaktu meraka tidak atau kurang mendapatkan semuanya, ia akan merasa kosong. Disinilah letak permasalahannya ia akan mencari hal-hal diluar rumah untuk memenuhi kebutuhannya. Apabila dia melakukan dengan kegiatan yang positif seperti ke gereja atau keluar menonton bioskop dan makan bersama teman-teman sekolah mungkin itu masih lebih baik. Namun kalau tidak hati-hati, wanita remaja menjadi sasaran empuk untuk dimanfaatkan banyak pria yang tidak bertanggung jawab.
3.      Tuntutan orang tua akan prestasi-prestasi akademik dan kemampuan atau ketrampilan yang lebih.
Pada zaman sekarang hampir semua anak dituntut untuk cerdas dan berprestasi di sekolah dan kelebihan diluar sekolah. Masuk ke sekolah yang terkenal adalah sebuah kebanggaan tersendiri orang tua, apalagi mendapatkan prestasi akademik yang mencengangkan. Diluar sekolahpun mereka diharapkan mengikuti kursus hal ini akan menambah daftar anak untuk menjadi remaja putri yang pintar dan menarik. Namun sebaliknya, kalau hanya satu atau dua bidang saja kelebihannya maka ia akan merasa kurang dihargai dan tidak menarik.
Perasaan ini menyebabkan dorongan untuk dicintai dan diperhatikan para pria semakin besar. Seakan-akan mengatakan “tidak apa-apa saya tidak bisa didalam akademik, asalkan ada pria yang mau mendekati saya.” Selain menunjukkan kecantikannya, saat ini pula remaja putri rela mengeluarkan uang untuk mendapatkan hati sang prianya. Lebih parah lagi adalah remaja putri yang berani menjajakan tubuhnya untuk sang prianya. Misalnya mengirimkan foto bugilnya melalui dunia maya atau telepon selular. Tidak menutup kemungkinan juga melakukan hubungan seks diluar nikah. Harapanny;a hanya satu, yaitu tetap dicintai si pria yang mendekatinya.

Kita tentu tidak akan rela bila remaja putri menjadi korban dari pria-pria yang dimanfaatkan dirinya oleh sebab itu perlu melakukan tindakan-tindakan nyata untuk mencegah hal tersebut antara lain :
1.      Sejak masih kecil, jangan terbiasa untuk member penekanan pada penampilan jasmaniah.
Sering kita mengatakan kepada anak perempuan utnuk rajin olah raga agar kamu langsing dan cantik. Menyimpulkan jadi wanita jangan gemuk-gemuk nanti jelek dan tidak ada yang suka sama kamu. Sebaliknya kita tekankan pada kesehatan kalau sering ber olah raga kamu akan sehat dan tidak mudah terserang penyakit. Karena anak-anak yang diberikan konsep cantik atau jelek secara jasmaniah akan rentan sekali dan minder bila tidak tercapai standar kecantikan tertentu.
2.      Lebih baik membangun kualitas batiniah ketimbang kualitas jasmaniah.
Cantik adalah kualitas jasmaniah dan tidak semua orang bisa mendapatkannya. Sedangkan karakter adalah kualiatan batiniah dan semua orang perlu dan bisa membangunnya. Jelaskan bahwa kecantikan atau jasmaniah bersifat sementara berjangka pendek. Sebaliknya karakter yang menyenangkan atau kualitas batiniah yang baik akan jauh lebih bertahan lama. Misalnya dari foto masa kecil remaja dan dewasa seorang ibu wajahnya akan berubah karena bertambahnya usia. Tapi ada yang tidak berubah yaitu karakter ibu yang menyenangkan, orang yang sabar, mau menolong, dan setia terhadap keluarga itu yang membuat ayah mengangumi dan memilih ibu.
Karakter yang baik adalah semua jenis karakter yang Tuhan inginkan, bukan saja orang lain inginkan. Misalnya diarahkan ke sikap menjadi orang rajin, ramah, tidak sombong, murah hati, mengutamakan kepentingan orang lain, bersikap adil, menyuarakan kebenaran, dan lain sebagainya. Percayalah itu semua akan menjadi daya tarik bagi orang-orang lain. Mengalihkan remaja putri kita lebih baik mencari teman banyak dari pada keinginan mencari pacar.
3.      Menerima dan mengasihi anak kita apa adanya.
Remaja putri kita perlu diyakinkan bahwa ia dikasi oleh orang tuanya bukan karena dia cantik dan tuntutan pintar, namun karena ia adalah pemberian Tuhan yang berharga. Jangan sampai hanya menginginkan prestasi menyanjung ketika dapat nilai bagus, dan menyalahkan ketika nilainya turun. Apalagi membandingkan dengan remaja putri lain yang lebih dari dia. Bagaimanapun kita perlu maanyadari bahwa anak dalam kondisi apapun adalah pemberian dari Tuhan.

4.      Bergaul akrab dengan anak perempuan seperti sebagai temannya.
Tidak jarang orang tua justru lebih banyak meluangkan waktunya bergaul dengan teman-teman kantornya. Setelah pulang kerja, ada orang tua yang tidak langsung pulang rumah. Selalu aja ada acara selepas pulang kerjadan paginya sudah berangkat kerja lagi. Kita perlu mengingat kembali secara kodrati anak perempuan lebih membutuhkan ekspresi kasih sayang orang tua ketimbang anak laki-laki. Sebab itu, ia sangat menantikan waktu-waktu dimana kita dapat bergaul akrab dengannya. Misalnya kita dapat berikan kejutan hadiah kesukaannya. Kita perhatikan apa yang ia inginkan atau seringkali ungkapkan rasa sayang.

Tindakan yang disarankan tadi merupakan suatu hal yang penting untuk mempersiapkan anak kita memasuki remajanya.perlu diingat ketika anak memasuki masa remaja adalah proses pencarian jati diri. Gejolak hormonal ini bisa mereka dapatkan dengan pengarahan yang benar dari orang tua, maka pada masa remaja ia akan jauh lebih kuat dalam menghadapi tantangannya. Selamat menuntun remaja putri kesayangan Tuhan yang sudah dititipkan kepada kita.

PENUTUP
Memahami perkembangan remaja adalah kebutuhan kasih sayang yang harus diberikan ke anak. Dalam perkembangan anak membutuhkan kasih sayang dan perhatian orang tua, termasuk anak perempuan. Apabila anak merasa dikasihi secara cukup oleh orang tua maka dirinya pun akan merasa kuat di dalam keluarganya. Sebaliknya jika anak banyak menerima kenyataan bahwa orang tuanya tidak memiliki waktu interaksi berkualitas dengan dirinya karena sibuk dengan pekerjaannya, anak tidak dapat kasih sayang secara cukup.
Memberikan pengertian bahwa cantik adalah kualitas jasmaniah dan tidak semua orang bisa mendapatkannya. Sedangkan karakter adalah kualitas batiniah dan semua orang perlu dan bisa membangunnya. Jelaskan bahwa kecantikan atau jasmaniah bersifat sementara berjangka pendek. Sebaliknya karakter yang menyenangkan atau kualitas batiniah yang baik akan jauh lebih bertahan lama. Tapi ada yang tidak berubah yaitu karakter ibu yang menyenangkan, orang yang sabar, mau menolong, dan setia terhadap keluarga.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Mighwar. Memahami  Masalah Sosial. 2006. Jakarta: Puspaswara.
Badan pusat statistik kota Semarang tahun 2009
Dewi, Ambarsari, et.all. Kebijakan publik dan Partisipasi Perempuan. 2002. Jakarta: Pattiro.
Depkes RI, 2002
Nurdin,.Fadlin, M.  Pengantar studi Kesejahteraan Sosial. 1990. Bandung: Angkasa.
Odi, Solahudin. Anak Jalanan Perempuan. 2000. Semarang: Yayasan Setara.
Undang-undang No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.